Tampilkan postingan dengan label Info Blora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Blora. Tampilkan semua postingan

Produksi Penuh Blok Cepu, Tunggu 3 Tahun Lagi


JAKARTA, KOMPAS.com  
Untuk meningkatkan produksi minyak nasional, Wakil Presiden Boediono mengintruksikan untuk dengan segera menyelesaikan masalah Blok Cepu, Jawa Tengah. Selain penyelesaian Blok Cepu, Wapres juga meminta perbaikan aturan dalam pene rapan asas cabotage (kewajiban penggunaan berbendera Republik Indonesia bagi angkutan pelayaran batubra dan migas) serta penajaman rancangan peraturan pemerintah (RPP) mengenai cost recovery.     
Hingga saat ini, Blok Cepu belum optimal dalam kapasitas p roduksinya. Sekarang ini, kapasitas produksinya masih 20.000 barrel per hari. Padahal, kapasitas produksinya pada tahun 2013 diperkirakan bisa mencapai 165.000 hingga 185.000 barrel per hari. "Oleh sebab itu, masalah-masalah seperti masalah tanah, administrasi, izin pekerja dan lain-lainnya, dalam waktu sebulan ini harus bisa diselesaikan," tandas Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat kepada pers, seusai mengikuti rapat mengenai lifting minyak di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (26/8/2010) sore.Menurut Yopie, jika masalahnya bisa diselesaikan, maka Blok Cepu bisa berpoduksi optimal pada 2013 mendatang dan dapat meningkatkan produksi minyak nasional sampai 1 juta barrel per hari.
Menurut Yopie, persoalan lainnya yang penting dibahas Wapres Boediono adalah masalah asas cabotage. Kementerian Perhubungan diinstruksikan untuk meninjau kembali dan mempertajam definisi cabotage tersebu t. Dalam asas ini, setiap kapal yang melewati perairan Indonesia itu, harus mengibarkan bendera Indonesia. Ketentuan ini baru berlaku pada Januario 2011.  
"Kita minta supaya kapal pelayaran untuk pendukung diharapkan tidak harus menggunakan bendera Indone sia meskipun di wilayah laut Indonesia. Diharapkan, dengan mendapatkan dispesansi bagi kapal-kapal yang mengangkut migas, tidak harus dipaksakan seperti itu," ujarnya.
Yopie mengakui, jika dipaksakan berlaku asas cabotage tersebut tanpa penajaman, akan ban yak produksi minyak Indonesia yang hilang minimal 53.000 barrel per hari diberlakukan. Sebab, banyak kapal-kapal angkut yang tidak berbendera Indonesia tidak bisa berlayar di Indonesia. Salah satu usulan adalah perlunya dispensasi bagi kapal-kapal pengan gkut minyak mentah.   
Adapun mengenai RPP Cost Recovery, yang saat ini mendekati final, diminta oleh Wapres untuk sebulan lagi bisa diselesaikan sehingga bisa berlaku. "Diharapkan, RPP tersebut tidak berlaku surut bagi kontrak-kontrak lama yang tengah berlaku," demikian Yopie.
Read more

Sumur Zaman Belanda Masih Semburkan Minyak

Sumur minyak tua peninggalan penjajah Belada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, hingga sekarang masih menyemburkan minyak, yang setiap sumurnya masih bisa menghasilkan sekitar 5.000 liter per hari.

Manajer Koperasi Unit Desa (KUD) Wargo Tani Makmur, Yusuf, di Blora, Senin (23/08/2010), mengatakan sejak mengantongi izin operasional, pengelolaan minyak pada sumur tua seperti di Desa Bangoan, Kecamatan Jiken sudah menghasilkan minyak dengan kapasitas cukup besar.

"Hingga sekarang minyak yang keluar sudah 80.000 liter. Kami sedang giat-giatnya melakukan eksplorasi bersama karyawan dan warga sekitar," katanya.

Dikatakannya, produksi minyak mentah diserahkan ke PT Pertamina Cepu dengan mendapatkan ongkos angkat dan angkut sebesar Rp1.199 per liter untuk produksi 20 barel. "Jika di atas 20 barel mendapatkan insentif Rp100 per barel," katanya."Kami mempunyai target, satu sumur bisa menghasilkan 5.000 liter per hari, dan membuka seluruh sumur tua yang tersebar di Kecamatan Jiken. Hingga sekarang sudah enam sumur minyak yang dibuka, di antaranya di Desa Bleboh, Janjang, dan Ketringan," katanya.

Menurut dia, hasil pengelolaan sumur yang ditinggal Belanda sejak tahun 1938 diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu Kepala Dinas Pertambangan, Energi dan Mineral, Adi Purwanto, di Blora, Senin mengatakan, sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 01 Tahun 2008, KUD akan menyerahkan seluruh hasil produksi minyak ke PT Pertamina dan akan mendapat imbalan jasa, yaitu ongkos angkat dan angkut yang nilainya sesuai dengan kesepakatan ke dua belah pihak.

"Yang jelas, eksploitasi sumur-sumur tua tersebut menimbulkan efek pada perbaikan ekonomi di wilayah tersebut, khususnya warga desa tempat sumur itu berada," katanya.

Menurut dia, sumur-sumur tua di Blora tersebar di sejumlah Kecamatan, di antaranya Kecamatan Cepu, Sambong, Jiken, Kedungtuban dan Randublatung. (Ans/At) 
Read more

TERMINAL BLORA

Ada dua terminal di Kota Blora. Terminal lama dan terminal baru. Terminal lama terletak tak jauh kearah timur dari pusat kota, sedangkan terminal baru radius 4km-an arah timur pusat kota Blora. Terminal lama ada di depan stasiun, stasiun ini sudah 30 tahunan tidak ada aktivitas apapun. Dulunya stasiun ini merupakan stasiun utama di Blora, terhubung dengan jalur kereta api dari stasiun kereta api Ngareng Cepu, Jepon, Blora, Kunduran dan Purwodadi.
Area terminal lama kota Blora sekarang tidak jelas penggunaannya, hanya sesekali saja dijadikan lokasi pameran pembangunan, pasar malam, konsolidasi partai politik, dan event-event otomotif. Namun meskipun tidak lagi menjadi tempat nge-tem bus-bus besar, aktivitas transportasi tetap saja berjalan. Bahkan lokasi sekitar terminal ini menjadi pilihan utama masyarakat saat menunggu bus jurusan Cepu maupun jurusan Semarang. Namun kebanyakan warga masyarakat yang akan menumpang bus jurusan Semarang lebih memilih menunggu di perempatan Biyandono Blora.
Dengan sendirinya, terminal baru yang diberi nama terminal Gagak Rimang nyaris tidak difungsikan oleh masyarakat. Masyarakat lebih memilih tempat-tempat semacam terminal lama maupun perempatan-perempatan strategis lain saat menunggu bus. Hal ini disebabkan letak terminal baru ini yang jauh dari pusat kota, sehingga masyarakat harus mengeluarkan dana tambahan lagi bila harus menunggu bus di terminal ini.
Nama Gagak Rimang mengambil dari nama kuda titian pahlawan pembela rakyat Cepu-Blora Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Penangsang. Kanjeng Haryo Penangsang sudah seharusnya menjadi teladan bagi para pejabat di seluruh wilayah Kabupaten Blora. Ketika tukang sabit rumput kudanya dipotong telinganya oleh salah seorang pejabat Pajang, beliau murka. Sudah menjadi harga mati bagi beliau bahwa rakyat adalah segalanya!.
Entah benar atau tidak cerita rakyat ini, karena tidak dibuktikan dengan adanya perkamen, prasasti, maupun dokumen ataupun laporan jurnalistik yang objektif, hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Menurut penulis, tukang sabit rumput hanyalah suatu analogi saja untuk menggeneralisir rakyat kecil. Hingga dapat diartikan pada saat itu pihak Kerajaan Pajang melakukan penyiksaan terhadap rakyat Jipang Panolan. Hal itulah yang membuat Kanjeng Haryo Penangsang tidak tinggal diam. Cerita selanjutnya silahkan Anda reka-reka sendiri, atau menurut saja pada pakem cerita rekaan yang sudah ada, itu terserah Anda.
Read more

TERMINAL CEPU

Tidak seperti Stasiun Cepu, Terminal Cepu terletak relatif jauh dari pusat kota. Tapi tidak usah khawatir, terminal ini cukup dekat jaraknya dengan hotel terbesar di Cepu yang dinamakan dengan Hotel Mega Bintang Cepu. Apakah hotel ini sudah layak mendapatkan sertifikasi sebagai hotel berbintang?. Silahkan Anda coba untuk menginap barang semalam.
Tidak ada 100 meter arah timur Hotel Mega Bintang, sudah ada sebuah penginapan lagi. Penginapan yang cukup bersih dengan harga booking relatif murah. Namun bila Anda ingin menginap di hotel yang berada di pusat kota, maka bila Anda menumpang bus dari arah Surabaya silahkan turun di Ketapang atau Kantor Pos kemudian cukup jalan kaki atau naik becak ke arah utara maka ada banyak pilihan tempat menginap di Cepu.
Dari sisi keamanan, semua tempat di Cepu aman. Hanya nasib saja yang menentukan Anda beruntung atau celaka. Seperti pepatah Jawa mengatakan “Rejeki, bejo, pati sing ngatur Gusti Allah dewe”. Rejeki, keberuntungan dan kematian merupakan urusan Tuhan. Orang Cepu tidak ada yang jadi preman, maling, rampok, di Cepu sendiri. Jadi Cepu bisa dikatakan aman-aman saja bagi penduduk setempat maupun pengunjung, termasuk di Terminal Cepu ini.
Tidak seperti terminal di kota besar semacam Solo, Surabaya, Semarang dan lain-lain, di terminal Cepu tidak ada pengamen yang suka maksa-maksa minta uang recehan. Juga tak ada pengasong yang tingkah lakunya tidak menyenangkan. Tidak pula ada calo penumpang yang bertingkah kasar. Bila Anda menemui pengamen, pengasong maupun calo yang tidak bertingkah layaknya manusia biasa silahkan hubungi kami. Laporan Anda akan kami teruskan pada Kapolsek Cepu.
Namun cukup disayangkan, bagi Anda yang baru pertama kali ke Cepu akan langsung merasakan panasnya hawa kota Cepu di terminal ini. Apakah karakteristik sebuah terminal memang harus tanpa pepohonan atau memang Pemkab Blora yang tak tanggap akan estetika maupun ekologikal terminal Cepu kita tidak begitu paham. Bagi Anda yang membawa anak kecil, kami sarankan untuk tidak berlama-lama di terminal ini.
Tulisan ini kami buat pada saat musim kemarau 2009. Saat tulisan ini kami terbitkan, hampir tidak ditemui halaman beraspal di terminal Cepu. Semua mengkelupas, berlubang, sehingga polusi udara di terminal ini bukan hanya akibat knalpot diesel bis namun juga karena debu tanah yang berterbangan. Waiting room yang tersedia juga tidak memadai sehingga bila tengah hari sudah terasa panas dan pengap.
Saat musim penghujan banyak genangan air, ada beberapa di jalur utama keluar masuk bis dari maupun ke terminal. Sampah di sekitar terminal juga memberikan bau maupun pandangan yang tak sedap.
Read more